1. Prospek karir yang lebih baik: Individu dengan keterampilan atau keahlian khusus mungkin mendapatkan peluang kerja yang lebih menguntungkan di negara lain. Hal ini mencakup akses terhadap fasilitas penelitian yang lebih baik, teknologi mutakhir, dan kolaborasi internasional yang dapat memajukan karir mereka.
2. Kualitas hidup yang lebih tinggi: Beberapa negara menawarkan kualitas hidup yang lebih baik secara keseluruhan, termasuk faktor-faktor seperti sistem layanan kesehatan yang lebih baik, kesempatan pendidikan, infrastruktur, dan layanan sosial. Faktor-faktor ini mungkin sangat menarik bagi individu yang berkeluarga atau yang memprioritaskan keseimbangan kehidupan kerja.
3. Stabilitas politik dan ekonomi: Braindrain dapat dipengaruhi oleh ketidakstabilan politik, kerusuhan sipil, atau kemerosotan ekonomi di negara asal. Individu mungkin mencari lingkungan yang lebih stabil di mana mereka dapat mengejar karir mereka tanpa takut akan gangguan atau penganiayaan.
4. Faktor budaya dan bahasa: Beberapa individu mungkin termotivasi untuk pindah ke negara-negara dimana mereka memiliki nilai-nilai budaya, bahasa, atau norma-norma sosial yang sama. Hal ini dapat mempermudah integrasi dan adaptasi terhadap lingkungan baru.
5. Alasan pribadi dan keluarga: Faktor-faktor seperti reunifikasi keluarga, preferensi pribadi, atau keinginan untuk bertualang dan pengalaman baru juga dapat menyebabkan terjadinya braindrain. Individu dapat memilih untuk pindah ke negara lain karena alasan yang tidak berhubungan dengan insentif keuangan.
Penting untuk dicatat bahwa braindrain dapat mempunyai dampak positif dan negatif pada negara-negara yang terlibat. Meskipun hal ini dapat menyebabkan hilangnya tenaga profesional terampil di suatu negara, hal ini juga dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan inovasi di negara penerima. Oleh karena itu, hal ini merupakan masalah kompleks yang memerlukan pertimbangan cermat dan intervensi kebijakan untuk mengatasi penyebab utama terjadinya braindrain.